Anything But “What A Day!”

Posted: July 2, 2012 in Gen-K
Tags: , , , ,

oleh: Aulia Rohendi* | http://www.auliyyaa.com

Aku mau memberikan judul post ini “What A Day!” tetapi kuurungkan. Mengapa? Aku rasa belum segitunya kali ya, sampai harus blingsatan kaya gitu, hoho. Hari ini cuma ditutup dengan ‘bad feeling‘, yang aku harap setelah menuliskan ini, maka akan berubah menjadi ‘ok feeling‘.

I feel so uncomfortable. Masih memikirkan tugas-tugas yang harus kukerjakan (tepatnya yang seharusnya sudah selesai kukerjakan). Masih memikirkan tanggung jawab-tanggung jawab yang entah kepada siapa akan bisa kupercayakan (everyone is so untrue..). Masih memikirkan pelampiasan-pelampiasan kekecewaan yang bikin syok (shock kalo Bahasa Inggrisnya). Hei, aku rasa aku wajar melampiaskan seperti itu. Ini bukan lagi kecewa. Tetapi lebih dari itu.. [Ada yang tahu kata dalam Bahasa Indonesia atau bahasa apapun, yang bisa berarti ‘lebih dari kecewa’ atau tepatnya’benar-benar sungguh-sungguh sangat sangat teramat kecewa sekali tak terampunkan’?].

Huaaaah!
K-E-C-E-W-A
L-E-B-I-H–D-A-R-I–K-E-C-E-W-A
L–E–B–I–H—D–A–R–I—K–E–C–E–W–A

Kecewa aku. 

Kesimpulan:
Maka ketahuilah, bahwa manusia itu mencinta. Manusia itu pecinta. Manusia itu pencinta. Manusia hidup dari cinta. Mati bisa jadi karena cinta. Manusia kadang-kadang menafsirkan cinta dengan keliru. Manusia menghambakan diri atas nama cinta. Tetapi sudah benarkah kita mencinta? Sudah benarkah ‘cara’ kita mencinta, ‘dasar’ kita mencinta. Bukankah tidak ada yang boleh melebihi cinta kita kepada Sang Maha Pencinta? Lalu, jika kita mencinta sesuatu lebih daripada cinta kepada Maha Pemberi Cinta, apakah Dia Yang Bersemayam di Mana-Mana tidak akan cemburu? Lalu murka. Dan Dialah Sang Pencemburu. Dan itu hak Dia. Tidak ada sebutir debu berserakan di muka bumi hina ini yang pantas cemburu. Dia berhak. Karena Dia Haq.

Sudah dikatakan kepada kau-kau semua manusia-manusia tolol. Cintai sesuatu karena Satu. Bukan mencintai sesuatu lalu lupa kepada Satu. Dunia ini membutakan. Lalu benarkah pernyataan ‘Cinta Itu Buta’? Apakah penting dibahas benar tidaknya pernyataan itu? Entah. Yang jelas, bagiku ‘Cinta Itu Buta’ berlaku buat Yang Maha Melihat. Karena dia mencintai semua-semua manusia-manusia tolol tanpa pilih kasih. Ada yang sanggup sedemikian? Bagi manusia, bagi sebagian, lebih tepat ‘Cinta Itu Membutakan’. Tetapi jangan kau anggap itu terlalu serius. ‘Cinta itu Membutakan’, karena ada elemen-elemen lain yang membuat manusia terbutakan.  (Jangan salahkan Cinta. Karena cinta itu seharusnya positif). Merasa sepi. Hampa. Ketakutan akan kesendirian. Ketakutan tidak menemukan sebaik entah-siapa-dia. Ditambah lagi dengan bisikan-bisikan yang menggiring manusia ke dalam penyesalan abadi di kehidupan setelah kehidupan. S-E-T-A-N. I-B-L-I-S. Mereka benar-benar lihai. Banyak yang tersesat karena cinta. Tapi aku tak setuju kalimat barusan. Aku lebih setuju: Banyak yang tersesat karena mereka membiarkan Kebencian-Terhadap-Manusia menang terhadap Kecintaan-Kepada-Manusia.

Hakikat, kawanku. Semuanya berpulang pada pengertian kita kepada h–a–k–i–k–a–t.

Siapa aku, siapa kau, siapa Maha Cinta, ada apa dalam kisah lama yang membuat manusia gundah di hari ini?

Hakitat. Back to Basic. Everything runs. Back to Basic. R–O–O–T–S.

Source: www.auliyyaa.com

* Singer, Hypnotherapist, Manager, Announcer, Writer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s